Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung Bandung, Rismanto S. Pd, M. Ikom bersama para anggota DPRD Kabupten Bandung Barat mengikuti kegiatan Sidang Paripurna dengan agenda mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia yang dilaksanakan pada 16 Agustus 2021 di Lembang, KBB.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD KBB Ida Widaningsih, Pipih Supriati dan Ayi Sudrajat beserta 49 anggota DPRD KBB lainnya.

Dalam momentum tersebut, Ketua DRPD KBB Rismanto mengatakan HUT RI yang ke 76 ini bisa dimaknainya dengan fungsi dan peranan masing-masing untuk diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan kondisi pandemi Covid 19 yang harus dihadapi, maka dari itu semua unsur agar bisa sinergitas dan saling gotong royong.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan Pidato Kenegaraan yang merupakan bagian dari momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76.

Dalam sambutannya Joko Widodo mengatakan bahwa krisis resesi dan pandemi yang terjadi kalau bisa kita menghindarinya, tapi kalaupun itu semua terjadi banyak hal yang dapat kita pelajari.

Jika itu semua terkendali, maka akan menginspirasi dan memotivasi. Pandemi yang kita hadapi ini bisa menjadi mawas diri, memperbaiki diri, dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan masa depan ini, seperti kawah Candradimuka yang menguji, mengajarkan, dan mengasah kita untuk mampu menghadapinya.

Semua pilar kita diuji dengan memaksa kita untuk mengambil pelajaran guna menjadi bangsa yang kokoh, tahan banting, dan mampu memenangkan gelombang pertandingan. Seperti halnya kemerdekaan ini bukanlah diperoleh dari pemberian atau hadiah, namun kemerdekaan kita rebut dan perjuangkan di semua medan.

Adanya penemuan ini, akselerasi dan inovasi semakin menyatu dalam keseharian kita telah mengajarkan kita semua bahwa kesehatan adalah agenda kita bersama.

Mari kita bersama-sama bahu-membahu memberikan pendidikan tentang protokol kesehatan dan vaksin kepada semua, meskipun kita semua sangat berkonsentrasi dalam menyelesaikan permasalahan di sektor kesehatan, namun perhatian terhadap agenda besar kita menuju Indonesia maju tidak berkurang sedikitpun.

Berikut ini ringkasan pidato resmi Presiden sekaligus dalam rangka HUT Ke-76 Republik Indonesia:

Krisis, resesi, dan pandemi itu seperti api. Kalau bisa, kita hindari, tetapi jika hal itu tetap terjadi, banyak hal yang bisa kita pelajari. Api memang membakar, tetapi juga sekaligus menerangi. Kalau terkendali, dia menginspirasi dan memotivasi. Dia menyakitkan, tetapi sekaligus juga menguatkan. Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri, dan menguatkan diri, dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pandemi itu seperti kawah candradimuka yang menguji, yang mengajarkan, dan sekaligus mengasah. Pandemi memberikan beban yang berat kepada kita, beban yang penuh dengan risiko, dan memaksa kita untuk menghadapi dan mengelolanya. Semua pilar kehidupan
kita diuji, semua pilar kekuatan kita diasah.

Ketabahan, kesabaran, ketahanan, kebersamaan, kepandaian, dan kecepatan kita, semuanya diuji dan sekaligus diasah.
Ujian dan asahan menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Bukan hanya beban yang diberikan kepada kita, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri juga diajarkan kepada kita. Tatkala ujian itu terasa semakin berat, asahannya juga semakin meningkat.
Itulah proses menjadi bangsa yang tahan banting, yang kokoh, dan yang mampu memenangkan gelanggang pertandingan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air, Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah melalui etape-etape ujian yang berat. Alhamdulillah kita berhasil melampauinya.

Kemerdekaan Republik Indonesia bukan diperoleh dari pemberian ataupun hadiah, tetapi kita rebut melalui perjuangan di semua medan.

Perang rakyat, perang gerilya, dan diplomasi di semua lini dikerahkan, dan buahnya membuat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.
Resesi dan krisis yang datang bertubi-tubi dalam perjalanan setelah Indonesia merdeka, juga berhasil
kita lampaui.

Setiap ujian memperkokoh fondasi sosial, fondasi politik, dan fondasi ekonomi bangsa Indonesia. Setiap etape memberikan pembelajaran dan sekaligus juga membawa perbaikan dalam kehidupan kita.

Pandemi Covid-19 telah memacu kita untuk berubah, mengembangkan cara-cara baru, meninggalkan kebiasaan lama yang tidak relevan, dan menerobos ketidakmungkinan. Kita dipaksa untuk membangun normalitas baru dan melakukan hal-hal yang dianggap tabu selama ini.

Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman, dan tidak membuat keramaian, adalah kebiasaan baru yang dulu dianggap tabu. Bekerja dari rumah, belanja daring, pendidikan jarak jauh, serta rapat dan sidang secara daring, telah menjadi kebiasaan baru
yang dulu kita lakukan dengan ragu-ragu.

Di tengah dunia yang penuh disrupsi sekarang ini, karakter berani untuk berubah, berani untuk mengubah, dan berani untuk mengkreasi hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *