Saat Kota Terlelap, Irfan Masih Mengaduk Harapan di Balik Gerobak Bubur Kacang Hijau

 

Jalanan mulai lengang ketika sebagian orang memilih beristirahat. Lampu-lampu rumah perlahan padam, menyisakan cahaya temaram dari lampu jalan. Di tengah suasana itu, sebuah gerobak sederhana masih bertahan. Di baliknya, seorang remaja berdiri, mengaduk bubur kacang hijau yang mengepul pelan di udara malam.

Namanya Irfan (16). Remaja asal Bangkalan, Madura, itu menjalani hari yang tak biasa untuk usianya. Saat sebagian teman sebayanya mungkin sudah terlelap, ia justru masih berada di pinggir Jalan Arcamanik Endah, di depan Kompleks The Nirwana Residence, menutup hari ketika malam hampir benar-benar habis. Di usia yang masih muda

Irfan bukan sekadar membantu. Ia kini memegang penuh usaha bubur kacang hijau milik orang tuanya yang telah berjalan sekitar 10 tahun. Sudah lebih dari satu tahun terakhir, ia mengambil alih hampir seluruh proses, mulai dari berbelanja bahan, memasak, hingga melayani pembeli.

“Semua saya yang kerjain, dari beli bahan-bahan, mengolahnya, sampai menjualnya,” ujar Irfan kepada AyoBandung.com, Senin, 20 April 2026.

Hari Irfan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Ia tidak langsung beristirahat panjang, melainkan bersiap menjalani rutinitas yang berulang setiap hari. Menjelang siang, sekitar pukul 12.00 WIB, ia berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan seperti kacang hijau, ketan hitam, hingga santan. Dari sana, ia kembali untuk menyiapkan segala keperluan jualan.

Setelah bahan tersedia, waktunya dihabiskan untuk membersihkan gerobak, mengolah bahan, hingga memastikan semuanya siap dijual. Aktivitas itu berlangsung hingga sore hari. Menjelang pukul 16.00 WIB, Irfan mulai membuka lapaknya di pinggir jalan, bersiap menyambut pembeli yang datang silih berganti.

Lapaknya tidak langsung ramai. Ada waktu-waktu di mana ia harus menunggu cukup lama. Ia biasanya berjualan hingga pukul 02.00 dini hari, atau sampai dagangannya habis. “Mulai dari jam 4 sore sampai jam 2 pagi, tergantung habis atau tidaknya,” kata dia.

Namun, bagi Irfan, lelah bukan hanya datang dari aktivitas fisik. Justru, menunggu pembeli menjadi bagian paling menguras tenaga. Dalam waktu-waktu sepi, ia hanya memainkan ponselnya atau sesekali mengobrol dengan pedagang lain di seberang jalan. “Capeknya itu nunggu pembeli, karena nggak ada kegiatan lainnya,” ucapnya.

Kadang, untuk mengusir bosan, ia menghampiri warung di sekitar atau berbincang dengan penjual gorengan di depan. Interaksi sederhana itu menjadi jeda dari sunyi yang cukup panjang. Di tengah malam yang perlahan semakin sepi, percakapan kecil menjadi cara untuk tetap bertahan.

Saat malam semakin larut, suasana berubah drastis. Jalanan menjadi lengang dan kendaraan mulai jarang melintas. Bagi Irfan, kondisi ini memberikan kemudahan sekaligus rasa waswas. Ia merasa lebih leluasa saat harus mendorong gerobak pulang, namun di sisi lain, ada pengalaman yang membuatnya tetap berhati-hati.

“Kalau sudah malam banget, apalagi jam 2-an, kadang lumayan seram. Pernah ada orang-orang seperti gangster lewat,” tuturnya.

Meski begitu, ia tetap menjalani rutinitasnya. Malam demi malam dilalui dengan pola yang sama, menunggu, melayani, lalu menutup hari ketika sebagian besar kota telah tertidur. Di tengah kesunyian itu, pembeli yang datang menjadi satu-satunya dinamika.

SUMBER:https://www.ayobandung.com/bandung-raya/7917024433/saat-kota-terlelap-irfan-masih-mengaduk-harapan-di-balik-gerobak-bubur-kacang-hijau

 

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777