Manila – Bencana gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,8 yang mengguncang lepas pantai Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026) pagi, telah menyebabkan dampak yang sangat memprihatinkan. Hingga Selasa (9/6/2026) pagi, otoritas setempat melaporkan jumlah korban jiwa telah bertambah menjadi sedikitnya 41 orang, sementara empat orang lainnya masih dinyatakan hilang. Guncangan yang terjadi sekitar pukul 07.37 waktu setempat itu memicu kerusakan infrastruktur yang meluas di berbagai wilayah Mindanao selatan, mulai dari runtuhnya bangunan, terputusnya pasokan listrik dan air bersih, hingga tanah longsor.
Wakil juru bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD), Diego Mariano, menjelaskan bahwa angka kematian terbesar tercatat di wilayah Soccsksargen, yang meliputi Provinsi Sarangani, Kota General Santos, dan Cotabato Selatan, serta wilayah Davao. Menurut juru bicara OCD, Junie Castillo, sebagian besar korban meninggal dunia akibat tertimbun reruntuhan bangunan saat gempa berlangsung. Selain korban jiwa, tercatat sedikitnya 479 orang mengalami luka-luka, di mana mayoritas di antaranya berada di wilayah Davao.
Situasi darurat ini berdampak pada sekitar 88.000 penduduk di Mindanao selatan, dengan 22.690 warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka. Banyak masyarakat yang masih bertahan di ruang terbuka karena khawatir akan keamanan bangunan serta ancaman gempa susulan yang terus terjadi. Saat ini, fokus utama tim penyelamat tertuju pada Kota General Santos dan Provinsi Sarangani sebagai area yang paling parah terdampak. Upaya evakuasi di Sarangani menghadapi tantangan berat karena beberapa lokasi hanya bisa dijangkau menggunakan helikopter dan ancaman gempa susulan terus memperlambat proses di lapangan.
Secara keseluruhan, kerusakan fisik akibat bencana ini cukup masif. Sebanyak 1.889 rumah warga rusak, di mana 1.500 di antaranya hancur total. Selain itu, terdapat 9 jembatan yang mengalami kerusakan serta 19 ruas jalan setempat yang tidak lagi bisa dilalui. Hingga saat ini, pemerintah setempat terus berupaya melakukan penanganan darurat di tengah kondisi yang masih belum stabil.


