Polrestabes Bandung menegaskan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Bandung tetap aman dan kondusif. Penegasan ini disampaikan untuk membantah berbagai narasi yang beredar di media sosial yang menyebut Bandung tengah mencekam akibat maraknya aksi kejahatan jalanan. Polisi mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi karena tidak semua konten yang viral mencerminkan kondisi sebenarnya.
Kapolrestabes Bandung menjelaskan, hasil patroli siber dan penyelidikan di lapangan menemukan sejumlah informasi yang ternyata tidak sesuai fakta. Salah satunya adalah kasus seorang remaja yang mengalami kecelakaan tunggal, namun mengaku menjadi korban begal karena takut dimarahi orang tuanya akibat sepeda motornya rusak. Cerita tersebut kemudian menyebar luas dan memunculkan kesan bahwa aksi pembegalan di Kota Bandung sedang meningkat.
Selain itu, polisi juga meluruskan informasi mengenai kasus penganiayaan berat yang menyebabkan korban meninggal dunia. Peristiwa tersebut sempat diviralkan sebagai aksi pembegalan secara acak, padahal hasil penyelidikan menunjukkan motif kejadian berbeda dan tidak berkaitan dengan kejahatan jalanan. Polisi menilai penyebaran informasi yang tidak akurat seperti ini justru memicu keresahan di tengah masyarakat.
Polrestabes Bandung juga membantah keaslian peta zona rawan kejahatan yang membagi wilayah Kota Bandung menjadi zona merah, kuning, dan hijau. Polisi memastikan peta tersebut bukan berasal dari institusi kepolisian. Untuk menjaga situasi tetap kondusif, Polrestabes Bandung terus menggelar Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) setiap malam dengan mengerahkan sekitar 2.600 personel gabungan hingga tingkat polsek. Masyarakat maupun wisatawan pun diminta tidak khawatir karena aparat terus melakukan patroli dan menjaga keamanan di seluruh wilayah Kota Bandung.


