Misteri suara dentuman keras disertai getaran halus yang dirasakan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari akhirnya terungkap. Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Gunung api yang saat ini berstatus Level III atau Siaga itu diketahui mengalami erupsi tipe lava fountain atau air mancur lava secara intens.
Aktivitas vulkanik tersebut memuntahkan material pijar yang terlihat membumbung tinggi pada malam hari. Erupsi juga menghasilkan suara dentuman dan gemuruh yang merambat hingga jarak ratusan kilometer. Suara tersebut dilaporkan terdengar dari sejumlah wilayah, mulai dari Serang, Pandeglang, Jakarta, Purwakarta, Subang, Cianjur hingga Bandung. Getaran yang cukup kuat bahkan sempat membuat sebagian warga di kawasan pesisir Labuan, Pandeglang, memilih mengungsi. Lontaran material vulkanik dari aktivitas erupsi juga dilaporkan menyebabkan kamera CCTV pemantau di lapangan mengalami kerusakan hingga mati total.
Fenomena dentuman yang terdengar jauh tersebut mengingatkan kembali pada kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883. Kala itu, suara ledakan Krakatau disebut terdengar hingga ribuan kilometer, termasuk sampai Alice Springs, Australia, dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia. Letusan besar tersebut memuntahkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar dan abu menyebar hingga lapisan stratosfer. Dampak letusan juga memengaruhi warna langit di berbagai belahan dunia, termasuk fenomena senja kemerahan yang kemudian dikaitkan dengan inspirasi karya terkenal pelukis Edvard Munch, The Scream.
Meski demikian, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan letusan dahsyat induknya pada 1883. Gunung yang terbentuk setelah aktivitas vulkanik pada 1927 tersebut masih berukuran relatif kecil dan dinilai tidak berpotensi memicu tsunami skala besar dalam kondisi saat ini. Kendati demikian, Badan Geologi tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama warga dan wisatawan yang berada di sekitar zona bahaya. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah karena masih terdapat potensi awan panas, lontaran material vulkanik, serta batu pijar.


