Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kenaikan harga beras nasional akan mulai turun dalam pekan ini. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan harga di pasaran, mulai dari operasi pasar, penyaluran bantuan pangan hingga percepatan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Amran juga meminta Perum Bulog memperkuat pasokan beras, terutama ke jaringan ritel modern yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami keterbatasan stok beras premium.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi rak beras premium di sejumlah supermarket dan minimarket yang mulai kosong. Amran menegaskan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebenarnya berada dalam kondisi aman sehingga tidak ada alasan bagi pedagang untuk menaikkan harga. Hingga 18 September 2026, stok CBP tercatat sekitar 4,6 juta ton. Sementara itu, penyaluran CBP melalui berbagai program intervensi pasar sepanjang 2026 telah mencapai sekitar 2,3 juta ton.
Pemerintah juga mempercepat tambahan alokasi beras SPHP sebanyak 1 juta ton untuk daerah yang mengalami kenaikan harga dan keterbatasan pasokan. Di sisi lain, harga beras masih menunjukkan kenaikan. Rata-rata harga beras medium nasional hingga pekan ketiga September 2026 mencapai Rp14.644 per kilogram, naik dari Rp14.534 per kilogram pada Agustus. Untuk beras premium, harga naik dari Rp16.382 menjadi Rp16.495 per kilogram. Amran mempertanyakan kenaikan harga tersebut karena stok beras pemerintah masih cukup besar.
Keterbatasan beras premium di ritel modern disebut telah berlangsung selama beberapa bulan. Untuk mengatasinya, Bulog menyiapkan penguatan pasokan ke jaringan ritel dengan target distribusi sekitar 110.000 ton beras setiap bulan, terdiri dari beras premium dan medium. Pemerintah berharap kombinasi operasi pasar, bantuan pangan, penyaluran SPHP dan penguatan pasokan ke ritel dapat segera mengatasi kelangkaan di pasaran sekaligus menekan harga beras. Amran pun meminta masyarakat tidak khawatir karena pemerintah memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman.


