Rangkaian upacara pemakaman maraton selama enam hari bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terus berlanjut dengan pengawalan ketat dan mobilisasi massa yang masif. Setelah lautan manusia memadati jalan-jalan di Ibu Kota Teheran, jenazah Khamenei kini telah tiba di kota suci Qom pada Senin (6/7/2026) malam waktu setempat menggunakan helikopter pemerintah.
Prosesi pelepasan di Teheran pada Senin pagi berlangsung luar biasa besar hingga menyamai pemakaman pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989 silam. Di tengah cuaca panas terik yang mencapai 40 derajat Celsius, truk yang membawa jenazah Khamenei beserta empat anggota keluarganya—yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026—merayap perlahan sepanjang rute 20 kilometer menuju Lapangan Azadi. Petugas menyemprotkan air di sepanjang jalan untuk mendinginkan jutaan pelayat yang melemparkan kelopak bunga ke arah peti mati, termasuk ke peti kecil cucu perempuan Khamenei yang baru berusia 14 bulan.
Suasana berkabung dipenuhi dengan kibaran bendera merah sebagai simbol pembalasan, serta poster wajah putra Khamenei, Mojtaba Khamenei. Sejumlah tokoh penting Iran tampak hadir memberikan penghormatan terakhir, mulai dari Presiden Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, hingga kepala Pasukan Quds Esmail Qaani. Bahkan mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang lama tidak terlihat sejak perang dimulai turut hadir dalam prosesi tersebut. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menegaskan bahwa kehadiran jutaan orang ini membawa pesan yang sangat jelas kepada musuh-musuh Iran.
Di balik kemegahan prosesi ini, absennya sosok Mojtaba Khamenei—putra sekaligus penerus takhta Pemimpin Tertinggi Iran yang baru diangkat seminggu setelah kematian ayahnya—terus memicu spekulasi. Mojtaba belum pernah terlihat lagi di depan umum sejak sebelum pengangkatannya, dan pihak pejabat setempat mengonfirmasi bahwa ia terluka dalam serangan udara sehingga belum dipastikan bisa menghadiri sisa upacara pemakaman.
Pemerintah Iran mengerahkan upaya besar untuk memobilisasi massa ini demi menunjukkan persatuan bangsa setelah melewati periode perang dan protes massal awal tahun ini. Otoritas terkait juga bekerja keras menjaga keamanan demi menghindari tragedi desak-desakan maut seperti pemakaman Khomeini tahun 1989 yang menewaskan belasan orang. Hingga saat ini, Kepala Layanan Darurat Jafar Miadfar mengonfirmasi situasi masih terkendali tanpa adanya korban jiwa. Setelah Teheran dan Qom, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan akan dibawa menuju kota suci Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu esok, sebelum akhirnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis (9/7/2026).


