Rupiah Kian Tertekan, Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (28/9/2026). Mengutip data Bloomberg pukul 15.55 WIB, rupiah berada di level Rp17.978 per dolar AS, sementara Google Finance mencatat posisi rupiah di Rp17.982 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari harga minyak dunia yang bertahan di atas US$90 per barel.

Analis mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan kenaikan harga minyak berisiko memberikan tekanan lebih besar terhadap perekonomian Indonesia. Dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, harga minyak yang bertahan di kisaran US$90–100 per barel berpotensi memperlebar defisit anggaran. Kenaikan ICP US$1 per barel diperkirakan dapat menambah pendapatan negara sekitar Rp3,5–4 triliun, tetapi pada saat yang sama berpotensi meningkatkan belanja negara hingga Rp10,3 triliun.

Tekanan tersebut dinilai semakin penting karena Indonesia merupakan negara net oil importer, sehingga lonjakan harga minyak yang berlangsung lama dapat meningkatkan beban fiskal. Di sisi lain, Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas perekonomian dan nilai tukar. Posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar US$146,5 miliar juga menjadi salah satu penopang upaya stabilisasi rupiah.

Ruang pelonggaran kebijakan moneter dinilai semakin terbatas setelah inflasi Agustus tercatat 3,19 persen secara tahunan akibat gejolak harga pangan dan risiko El Nino. Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

302 Found

302

Found

The document has been temporarily moved.