Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah perdagangan setelah sempat menembus level psikologis Rp 18.000.
Berdasarkan data Investing pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.45 WIB, kurs berada di level Rp 18.015 per dollar AS. Sementara data Google Finance menunjukkan pergerakan dollar bahkan sempat menyentuh Rp 18.022 per dollar AS pada malam sebelumnya. Meskipun sempat melemah tajam, posisi rupiah perlahan bergerak turun kembali ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS seiring berjalannya perdagangan. Performa negatif ini melanjutkan tren pada Rabu (3/6/2026), di mana rupiah ditutup melemah 0,71 persen (127,5 poin) ke level Rp 17.966,5 per dollar AS.
Mengapa Rupiah Terus Tertekan?
Data Bloomberg pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.30 WIB mencatat pelemahan lanjutan sebesar 0,35 persen (62 poin) ke level Rp 18.028 per dollar AS. Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, yaitu:
-
Sentimen Risk-Off Global: Ketidakpastian geopolitik dunia memicu investor global memindahkan dana mereka dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market) demi mencari aman. Aliran dana ini bahkan membuat indeks saham di berbagai negara maju mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high).
-
Faktor Domestik & Arus Modal Keluar: Di dalam negeri, pasokan valuta asing (valas) tercatat berkurang. Kondisi ini diperparah oleh derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia.
-
Sorotan Terhadap Kebijakan Pemerintah: Investor asing dan lembaga rating global saat ini tengah mencermati perkembangan serta arah kebijakan-kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.


