BANDUNG — Bencana tanah longsor yang menerjang kawasan Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dipastikan bukan fenomena pergerakan tanah biasa. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengategorikan peristiwa ini sebagai aliran bahan rombakan (debris flow) yang memiliki daya hancur luar biasa.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heri Waseso, menjelaskan bahwa berdasarkan investigasi di lapangan, terdapat tiga faktor geologis utama yang saling berakumulasi hingga memperbesar skala kerusakan di lokasi kejadian.
Tiga Pemicu Utama Longsor Pasirlangu
Morfologi dan kondisi alam di titik awal longsor menjadi kombinasi fatal yang memicu runtuhnya material bumi dalam volume besar. Tiga faktor tersebut meliputi:
-
Kemiringan Lereng yang Ekstrem
Titik awal longsoran memiliki topografi yang sangat curam dengan kemiringan mencapai $30^\circ$ hingga $40^\circ$, sebelum akhirnya menurun ke area berlereng $20^\circ$ sampai $30^\circ$. Perbedaan ketinggian yang mencolok antara area puncak dan landasan ini memberikan energi potensial yang sangat besar, membuat material tanah meluncur ke bawah dengan kecepatan dan hantaman yang kuat.
-
Lapisan Tanah Vulkanik yang Tebal dan Gembur
Kondisi bawah permukaan di lokasi didominasi oleh tanah hasil pelapukan material vulkanik dengan ketebalan ekstrem menembus lebih dari 15 meter. Karakteristik tanah vulkanik ini cenderung gembur dan memiliki daya serap air yang tinggi. Ketika diguyur hujan, tanah menyerap air hingga mencapai titik jenuh, membuatnya kehilangan kestabilan dan runtuh dalam jumlah masif.
-
Drainase Alami dan Curah Hujan Ekstrem
Berdasarkan data BMKG, kawasan tersebut sempat diguyur hujan ekstrem dengan intensitas di atas 200 milimeter per hari. Air hujan dalam jumlah masif ini terkonsentrasi pada jalur drainase alami yang sempit, menciptakan daya kikis (erosi) yang sangat kuat. Aliran air bercampur material ini kemudian bergerak liar mengikuti jalur lembah atau sungai yang sudah ada di bawahnya.
Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Meski isu perubahan tata guna lahan sempat dituding sebagai dalang utama, Badan Geologi menegaskan bahwa faktor karakteristik geologi lokal tetap menjadi penyebab yang paling dominan. Alih fungsi lahan memang turut memberikan pengaruh buruk, namun kecuraman morfologi dan sifat butiran tanah vulkanik yang kecil serta gembur jugalah yang membuat material mampu mengalir sangat jauh.
Rekomendasi: Zona Merah dan Relokasi Warga
Mengingat tingginya risiko susulan dan karakter tanah yang sudah tidak stabil, Badan Geologi menyatakan bahwa area bekas longsoran tersebut sudah tidak layak dan tidak aman untuk dijadikan tempat tinggal.
Sebagai langkah antisipasi demi keselamatan jiwa, pihak berwenang merekomendasikan agar warga yang berada di zona terdampak langsung segera dipindahkan atau direlokasi ke tempat yang lebih aman.


