Banyak orang mengira kunci utama untuk menyudahi kebiasaan merokok hanyalah kemauan yang kuat. Alhasil, saat seseorang gagal berhenti, mereka kerap dicap lemah atau tidak punya tekad.
Padahal, secara medis, ketergantungan pada rokok maupun rokok elektrik (vape) bukanlah sekadar kebiasaan buruk, melainkan sebuah adiksi kronis. Nikotin di dalamnya memicu perubahan fungsi pada sistem saraf di otak, yang berujung pada risiko kesehatan serius seperti kanker paru dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Karena melibatkan jalur saraf otak, perjuangan ini jelas tidak bisa dimenangkan hanya dengan modal “niat”.
Jebakan Batman Bernama Withdrawal Syndrome
Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., menjelaskan bahwa musuh terbesar seorang perokok saat mencoba berhenti adalah munculnya gejala putus nikotin (withdrawal syndrome).
Saat seseorang mengisap rokok, nikotin hanya butuh waktu 10 detik untuk mencapai reseptor $\alpha4\beta2$ di otak. Detik itu juga, otak melepaskan dopamin—senyawa kimia yang menciptakan rasa nyaman, tenang, dan senang.
“Ketika otak melepaskan dopamin, muncul rasa nyaman yang ingin didapatkan kembali. Akibatnya, ia akan merokok lebih banyak demi mencapai efek nyaman tersebut,” ujar Prof. Agus dalam kampanye #SehatTanpaRokok di Jakarta baru-baru ini.
Secara alami, dopamin bisa didapat dari hal menyenangkan seperti menerima hadiah. Namun bagi perokok, rokok menjadi jalan pintas instan untuk memicu hormon bahagia ini. Ketika pasokan nikotin dihentikan tiba-tiba, tubuh akan “pemberontakan” melalui berbagai gejala menyiksa, antara lain:
-
Stres, cemas, dan mudah marah
-
Sakit kepala dan nyeri otot
-
Sulit berkonsentrasi
-
Gangguan tidur (insomnia)
-
Dorongan psikologis yang kuat untuk kembali merokok
Kesaksian dr. Tirta: Kalahnya Niat oleh Gejala Fisik
Praktisi kesehatan sekaligus mantan perokok, dr. Tirta Mandira Hudhi, membagikan pengalamannya yang berhasil lepas dari rokok pada tahun 2022 setelah mendapati kebugaran fisiknya ($VO_2 \text{ max}$) anjlok ke angka 34.
dr. Tirta memilih metode cold turkey (berhenti total seketika) yang diimbangi dengan olahraga berat 4-5 kali seminggu. Namun, ia sadar tidak semua orang memiliki ketahanan tubuh dan situasi yang sama.
“Banyak perokok sebenarnya punya niat kuat untuk berhenti. Tapi niat itu sering kali kalah oleh dampak fisik dan psikologis saat tubuh kehilangan nikotin. Perokok butuh solusi konkret yang terukur, bukan sekadar imbauan atau ceramah,” tegas dr. Tirta.
Solusi Berbasis Sains: Mengenal Terapi Ganti Nikotin (NRT)
Untuk menjembatani jurang antara niat dan gejala putus obat yang menyiksa, dunia medis mengenalkan Nicotine Replacement Therapy (NRT) atau Terapi Pengganti Nikotin.
Terapi ini bekerja dengan memasok nikotin ke tubuh dalam dosis rendah yang terkontrol secara bertahap. Keunggulannya, pasokan ini bersih dari ribuan zat kimia beracun dan karsinogenik (pemicu kanker) yang biasanya ada dalam asap rokok. Salah satu bentuk NRT yang populer dan mudah digunakan adalah permen karet nikotin (nicotine gum).
Menurut dr. Tirta, mengombinasikan tekad personal dengan bantuan sains seperti NRT ini terbukti meningkatkan peluang keberhasilan seseorang untuk benar-benar bersih dari rokok.
Pastikan Produk Medis yang Legal
Menutup edukasi tersebut, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, dr. William Adi Teja, MD., mengingatkan masyarakat untuk jeli memilih produk NRT. Pastikan produk terapi yang digunakan memiliki izin edar resmi dari BPOM.
“Kehadiran produk terapi berstandar medis dan berizin resmi memberikan jaminan keamanan, mutu, dan manfaat bagi masyarakat yang sedang berjuang lepas dari jerat ketergantungan,” pungkas dr. William.


