TASIKMALAYA – RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya mencatat tren peningkatan jumlah pasien kesehatan jiwa yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini menjadi alarm bagi masyarakat karena mayoritas pasien yang datang justru berasal dari kelompok usia produktif.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Soekardjo, dr. Titie Purwaningsari, mengungkapkan bahwa beban layanan kesehatan jiwa di rumah sakit kini semakin padat. Jika sebelumnya praktik dokter jiwa hanya memerlukan waktu setengah hari, kini operasional layanan harus diperpanjang hingga sore hari untuk mengakomodasi tingginya permintaan.
“Saat ini, kami bisa melayani hingga 60 pasien dalam satu hari. Tren ini terus meningkat, dan yang paling banyak adalah mereka yang berada di usia produktif,” ujar dr. Titie.
Menurut dr. Titie, ada berbagai faktor kompleks yang mendasari gangguan mental pada kelompok usia produktif. Tekanan ekonomi, tuntutan beban kerja, permasalahan keluarga, hingga isu sosial menjadi pemicu utama yang sering kali berakar dari stres yang diabaikan.
Ia menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai gejala awal gangguan kejiwaan. Banyak pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah cukup berat karena mereka atau keluarga terlambat menyadari perubahan perilaku atau kondisi mental yang terjadi sejak dini.
“Stres itu berkembang pelan-pelan tanpa disadari. Sering kali saat keluarga mulai menyadari dan membawa pasien berobat, kondisinya sudah cukup serius,” tambahnya.
Di tengah lonjakan angka kunjungan pasien, RSUD dr. Soekardjo kini menghadapi tantangan besar dari sisi fasilitas dan sumber daya. Saat ini, rumah sakit tersebut hanya memiliki satu dokter spesialis jiwa yang harus menangani seluruh rangkaian konsultasi dan perawatan bagi puluhan pasien setiap harinya. Keterbatasan jumlah tenaga ahli ini menjadi kendala serius dalam memberikan pelayanan kesehatan mental yang optimal bagi warga Tasikmalaya.


