CARACAS – Situasi di Venezuela kian memprihatinkan pasca-gempa kembar (doublet) dahsyat yang melanda negara tersebut pada Rabu (24/6) sore. Berdasarkan data terbaru hingga Jumat (26/6/2026), otoritas setempat mengonfirmasi jumlah korban tewas telah mencapai 235 orang.
Menteri Kesehatan Venezuela, Carlos Alvarado, mengungkapkan dalam pernyataan resmi bahwa ratusan korban tersebut tiba di fasilitas kesehatan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Selain korban jiwa, Kepala Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, melaporkan sekitar 1.520 orang mengalami luka-luka.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih berlangsung secara intensif. Diperkirakan setidaknya 200 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Kerusakan infrastruktur pun dilaporkan cukup masif, dengan lebih dari 250 bangunan hancur, termasuk delapan rumah sakit, kantor pusat Palang Merah Venezuela, hingga gedung Kedutaan Besar Prancis.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat peristiwa ini sebagai fenomena “gempa kembar”. Gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,5 terjadi hanya berselang 39 detik setelah gempa pendahuluan berkekuatan Magnitudo 7,2. Guncangan ini tercatat sebagai bencana seismik terkuat yang pernah menghantam Venezuela sejak tahun 1900.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, telah menetapkan status keadaan darurat nasional. Wilayah La Guaira, yang terletak di pesisir dekat Caracas, menjadi zona paling terdampak dengan sekitar 70.000 keluarga mengalami kerugian.
“Wilayah ini telah menjadi zona bencana,” tegas Rodriguez. Saat ini, pemerintah sedang berkoordinasi dengan sektor swasta untuk mengerahkan alat berat guna mempercepat proses penyelamatan di tengah sulitnya akses.
Operasi pencarian dan penyelamatan terus digenjot meski menghadapi kendala besar. Pasokan listrik di sebagian besar wilayah La Guaira dilaporkan masih terputus, dan bandara utama di wilayah tersebut terpaksa ditutup akibat kerusakan struktural yang cukup berat.
Di tengah upaya penyelamatan yang dilakukan petugas dan relawan hingga larut malam, sejumlah warga setempat mulai mengeluhkan lambatnya distribusi bantuan resmi yang sampai ke lokasi terdampak. Hingga kini, fokus utama pemerintah masih tertuju pada upaya evakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan.


