Penyakit autoimun kini tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada generasi muda. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi dan imunologi, dr. Steven Sumantri, menjelaskan bahwa selain faktor genetik, stres kronis menjadi salah satu pemicu utama yang dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit autoimun. Saat seseorang mengalami tekanan berkepanjangan, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dalam jumlah tinggi yang memicu peradangan di dalam tubuh. Kondisi ini diperparah jika stres menyebabkan gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan.
Hubungan antara stres dan penyakit autoimun bersifat dua arah. Stres berkepanjangan dapat memicu sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, sementara penyakit autoimun yang sudah muncul juga dapat meningkatkan tekanan psikologis penderitanya. Data dari Global Autoimmune Institute menunjukkan sekitar 80 persen pasien mengaku mengalami peristiwa emosional yang berat sebelum pertama kali didiagnosis autoimun. Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ribu orang, yang menunjukkan bahwa individu dengan gangguan terkait stres memiliki risiko lebih tinggi mengalami satu atau bahkan beberapa jenis penyakit autoimun.
Menurut dr. Steven, saat ini sekitar satu dari setiap 10 orang di dunia diperkirakan menderita penyakit autoimun. Kelompok usia 20 hingga 40 tahun menjadi yang paling rentan, padahal rentang usia tersebut merupakan masa paling produktif. Jika tidak ditangani dengan baik, peradangan yang dipicu autoimun dapat menyebabkan kerusakan organ secara permanen dan meningkatkan risiko komplikasi serius hingga kematian. Karena itu, menjaga kesehatan mental dan mengelola stres menjadi bagian penting dalam upaya mencegah munculnya penyakit ini.
Beberapa penyakit autoimun diketahui memiliki hubungan erat dengan stres, baik sebagai pemicu awal maupun penyebab kekambuhan. Di antaranya lupus, artritis reumatoid, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease (IBD), hingga penyakit Graves dan gangguan autoimun tiroid. Pada kondisi-kondisi tersebut, stres dapat memperburuk peradangan, meningkatkan nyeri, memicu kekambuhan gejala, hingga mempercepat kerusakan organ. Oleh karena itu, selain menjalani pengobatan, penderita juga disarankan menerapkan pola hidup sehat dan mengelola stres agar kondisi penyakit tetap terkendali.


