Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyatakan kondisi kriminalitas di Jawa Barat sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Menurutnya, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia itu masih menjadi sasaran berbagai aksi kejahatan, mulai dari pencopetan, penjambretan, pencurian, penggarongan, pembegalan, hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dedi menilai situasi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa dan membutuhkan langkah serius dari seluruh pihak.
Selain tingginya angka kriminalitas, KDM juga menyoroti maraknya peredaran minuman keras serta penyalahgunaan obat keras seperti Tramadol. Menurutnya, penyalahgunaan obat tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang sehingga pelaku menjadi lebih berani melakukan tindakan kriminal. “Tramadol yang disalahgunakan membuat orang memiliki nyali tinggi. Mereka berani melakukan penjambretan, membacok, bahkan sampai membunuh,” ujar Dedi dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Rabu (5/8/2026).
Dedi menegaskan pemberantasan kejahatan tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, kepala desa, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polsek, Polres, hingga Polda Jawa Barat untuk memperkuat sinergi dalam memberantas berbagai bentuk kejahatan. Menurutnya, kolaborasi semua pihak menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Ia juga meminta masyarakat tidak takut melaporkan aktivitas yang mencurigakan di lingkungan sekitar. Dedi menilai keberanian warga sangat penting untuk mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun berharap sinergi antara masyarakat dan aparat keamanan dapat menekan angka kriminalitas sekaligus memutus rantai peredaran minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan yang dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya aksi kejahatan di Jawa Barat.


