Kondisi sarana dan prasarana (sapras) SMPN 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menjadi perhatian Dinas Pendidikan (Disdik) setelah ditemukan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut meliputi kaca jendela pecah, dinding, pintu, plafon, tembok hingga atap yang membutuhkan perbaikan. Kondisi toilet juga menjadi sorotan karena sejumlah kamar mandi belum memiliki pintu. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik KBB Edy Syafrudin kembali melakukan monitoring pada Rabu (19/8/2026) atas arahan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.
Edy mengatakan sejumlah persoalan yang sebelumnya disampaikan pihak sekolah mulai ditindaklanjuti. Papan tulis yang rusak telah diganti, sementara sejumlah toilet sudah diukur untuk persiapan pemasangan pintu. Selain kerusakan fisik, Edy menegur pihak sekolah terkait kebersihan lingkungan yang dinilai belum terjaga. Ia meminta kondisi sekolah segera dibenahi dalam waktu tiga hari, terlebih SMPN 2 Ngamprah pernah meraih penghargaan Adiwiyata tingkat nasional. Untuk kerusakan ringan, sekolah dapat menggunakan dana BOS sesuai ketentuan, sedangkan kerusakan bangunan kategori sedang membutuhkan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
Sebagai langkah awal, Disdik KBB akan memprioritaskan rehabilitasi tiga ruang kelas di SMPN 2 Ngamprah. Edy menyebut rehabilitasi tersebut diarahkan menggunakan APBD tahun ini, dengan opsi Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila mendapat persetujuan pimpinan. Jika BTT tidak dapat digunakan, pihaknya akan mengupayakan anggaran melalui perubahan APBD. Menurut Edy, langkah tersebut diperlukan karena kemampuan dana BOS tidak mencukupi untuk menangani kerusakan bangunan yang masuk kategori sedang.
Di sisi lain, Disdik KBB sebenarnya telah mengusulkan revitalisasi SMPN 2 Ngamprah secara menyeluruh sejak akhir tahun lalu. Sebanyak 29 ruang kelas telah diusulkan untuk direvitalisasi dan proposal tersebut sudah melalui proses verifikasi oleh Kementerian Pendidikan. Saat ini, Disdik masih menunggu keputusan terkait persetujuan usulan tersebut. Edy memastikan perbaikan akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan fasilitas yang paling mendesak agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung aman dan nyaman bagi para siswa.


