Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata tidak hanya membutuhkan kemampuan komputasi yang semakin besar, tetapi juga konsumsi listrik dan air dalam jumlah signifikan. Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Eng Asep Sofyan, mengatakan masyarakat selama ini cenderung melihat AI sebagai teknologi digital, padahal di balik layanan tersebut terdapat data center yang berfungsi layaknya pabrik komputasi.
Menurut Asep, meningkatnya penggunaan AI membuat kebutuhan terhadap data center terus bertambah. Kondisi ini perlu diantisipasi karena data center, terutama yang digunakan untuk AI, membutuhkan listrik besar sekaligus sistem pendinginan yang juga mengonsumsi air. “AI yang kita pakai itu sebetulnya diproduksi dalam sebuah pabrik, pabrik komputasi yang nyata. Dan ini ternyata meminta konsumsi listrik dan air yang sangat besar,” kata Asep dalam webinar mengenai dampak lingkungan pembangunan data center AI, Kamis (8/10/2026).
Asep menjelaskan, data center AI setidaknya memiliki dua fungsi utama, yakni data training dan inferensi. Data training merupakan proses melatih sistem AI agar mampu mengenali pola, memahami pertanyaan, dan menghasilkan respons. Proses ini membutuhkan komputasi yang sangat intensif sehingga penggunaan listriknya juga tinggi. Sementara itu, inferensi merupakan proses ketika AI melayani pengguna, misalnya saat seseorang mengetik pertanyaan dan sistem memprosesnya melalui server untuk menghasilkan jawaban.
Menurut Asep, perbedaan antara training dan inferensi penting diperhatikan dalam pembangunan data center. Sebab, fasilitas yang awalnya dirancang hanya untuk melayani inferensi dapat berubah fungsi mengikuti perkembangan kebutuhan teknologi. “Data center ini dipakai untuk apa saja? Apakah hanya inferensi yang pemakaiannya tidak terlalu intensif atau juga untuk data training,” ujarnya.


