WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Perjanjian ini menandai berakhirnya ketegangan militer yang sempat berkecamuk antara kedua negara selama beberapa bulan terakhir.
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur bebas bea bagi pengiriman komoditas internasional. Keabsahan kabar ini turut dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran pada Minggu (15/6/2026).
Setelah sempat lumpuh total akibat agresi militer yang melibatkan AS dan Israel sejak 28 Desember tahun lalu, Selat Hormuz kini dipastikan akan kembali berfungsi normal. Melalui platform Truth Social, Trump menyambut antusias keberhasilan diplomasi ini.
“Kesepakatan besar dengan Republik Islam Iran kini telah sepenuhnya rampung. Selamat untuk seluruh dunia!” tulis Trump. Ia juga menginstruksikan penghentian blokade Angkatan Laut AS di kawasan tersebut, seraya memberikan lampu hijau bagi seluruh kapal tanker untuk kembali melintas dan melanjutkan distribusi energi global.
Trump optimistis bahwa langkah ini menjadi landasan bagi stabilitas keamanan jangka panjang di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa tim diplomatiknya saat ini tengah menyusun traktat perdamaian yang lebih komprehensif. Sebagai langkah awal, proses sterilisasi ranjau laut di jalur strategis tersebut akan segera dimulai.
Kabar perdamaian ini muncul tak lama setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengungkapkan adanya nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan pertikaian bersenjata secara permanen, termasuk meredam eskalasi konflik di Lebanon.
Langkah konkret selanjutnya adalah agenda penandatanganan dokumen perjanjian formal (signing ceremony) yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Sebelum upacara penandatanganan dilakukan, para utusan diplomatik dari berbagai pihak mediator akan mengadakan pertemuan intensif sepanjang pekan ini. Pertemuan ini difokuskan untuk mematangkan draf teknis pelaksanaan kesepakatan, yang menjadi fondasi penting bagi para kepala negara sebelum bertemu secara langsung di Swiss mendatang.


