Pengamat Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono menilai pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya tidak bisa semata-mata ditujukan untuk menghilangkan kemacetan. Menurutnya, di negara berkembang seperti Indonesia, kemacetan merupakan persoalan yang tetap akan ada meski sistem transportasi umum telah dibangun secara modern dan masif. Bahkan, kota-kota maju dengan jaringan transportasi publik yang terintegrasi pun masih menghadapi kemacetan.
“ Membangun sistem transportasi umum di negara berkembang seperti Indonesia, tidak bisa dianggap sebagai menghilangkan kemacetan. Di kota-kota maju dunia, di mana sistem transportasi umum sudah cukup masif dan terintegrasi, kemacetan masih tetap ada,” ujar Sony kepada Tribun Jabar, Senin (24/8/2026). Ia mengatakan kemacetan baru benar-benar hilang dalam kondisi luar biasa, seperti saat pandemi ketika mobilitas masyarakat turun drastis. Namun, kondisi tersebut tentu bukan solusi yang diharapkan.
Sony menilai yang lebih penting adalah menghadirkan pilihan transportasi yang aman, nyaman, inklusif, dan saling terintegrasi bagi masyarakat Bandung Raya. Warga yang ingin berjalan kaki maupun menggunakan sepeda harus mendapat fasilitas yang memadai, sementara masyarakat yang memilih transportasi umum harus memperoleh layanan yang andal dan memiliki kepastian waktu. Menurutnya, BRT Bandung Raya diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif utama dalam membangun sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi.
Ia juga menilai keberhasilan transportasi umum tidak bisa hanya diukur dari jumlah penumpang atau tingkat okupansi. Hal itu menjadi relevan di tengah masih relatif sepinya sejumlah koridor Metro Jabar Trans (MJT). Menurut Sony, ketika pilihan transportasi semakin banyak, pemerintah dapat memperkuatnya melalui kebijakan yang memberikan prioritas kepada angkutan umum. Dengan begitu, pembangunan BRT tidak hanya mengejar banyaknya penumpang, tetapi juga mendorong perubahan pola mobilitas menuju kota yang lebih nyaman dan berkelanjutan.


