Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95 yang kini tembus di angka Rp16.250 per liter, benar-benar memberikan tekanan baru bagi masyarakat urban dengan mobilitas tinggi. Situasi ini memicu keresahan, terutama bagi pekerja yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk menunjang produktivitas harian di Jakarta.
Rifki (25), seorang karyawan swasta yang setiap harinya bekerja melakukan survei lapangan, merasakan betul dampaknya. Mengingat motornya membutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi minimal RON 92, ia tak memiliki pilihan lain selain tetap setia menggunakan Pertamax. Ia khawatir, beralih ke BBM bersubsidi justru akan memperpendek usia mesin motornya.
“Motor saya memang speknya harus RON 92. Kalau dipaksakan pakai Pertalite, takut mesinnya cepat aus karena bensin sangat berpengaruh pada performa dan keawetan kendaraan,” ujar Rifki saat ditemui di SPBU kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (10/6/2026).
Dengan frekuensi pengisian tangki penuh hingga tiga kali dalam seminggu, tunjangan transportasi sebesar Rp500.000 per bulan yang diterimanya dari kantor kini dirasa tidak lagi mencukupi. Ia berharap perusahaan dapat meninjau ulang kebijakan tunjangan tersebut untuk menyesuaikan dengan kondisi harga bahan bakar dan biaya perawatan kendaraan yang terus melambung. Harapannya, ada penambahan sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 agar beban pengeluaran bulanannya tetap bisa dikelola.
Di sisi lain, tidak sedikit warga yang memilih untuk berkompromi dengan keadaan demi menjaga arus kas keuangan. Dani (28), seorang pekerja di gerai ayam goreng, memutuskan untuk beralih ke Pertalite sebagai langkah penghematan. Ia menyadari bahwa biaya untuk memenuhi tangki motornya kini melonjak drastis; uang Rp50.000 yang dulunya hampir cukup untuk mengisi penuh, kini hanya mampu membeli sekitar 3 liter bensin.
Dani mengaku telah bersiap mental untuk menghadapi konsekuensi dari pilihannya, yakni waktu tunggu yang lebih lama di SPBU akibat panjangnya antrean pengguna BBM bersubsidi. Hal serupa juga dirasakan oleh Kiki (27), yang kini tengah mencoba beralih ke Pertalite sembari mempertimbangkan apakah akan tetap menggunakan bahan bakar subsidi tersebut atau kembali ke Pertamax dalam jangka panjang. Kenaikan harga sebesar Rp3.950 per liter bagi Kiki merupakan selisih yang cukup besar dalam perhitungan anggaran rumah tangga mereka setiap bulannya.


