Pemerintah Kota Bandung terus menyiapkan solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan membangun fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPSOS) Gedebage. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027 melalui kolaborasi Pemkot Bandung, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Komitmen kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan di Balai Kota Bandung, Jumat, 21 Agustus 2026. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut menjadi salah satu langkah cepat pemerintah kota dalam mencari solusi persoalan sampah dengan memanfaatkan teknologi baru. Kawasan Gedebage sendiri telah disurvei bersama pihak terkait dan dinilai memungkinkan untuk dikembangkan sebagai fasilitas pengolahan sampah berkapasitas besar.
Farhan menjelaskan, kebutuhan fasilitas tersebut semakin mendesak karena Kota Bandung belum memiliki TPA sendiri dan selama ini masih bergantung pada fasilitas yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat, seperti TPA Sarimukti dan nantinya Legok Nangka. Sementara itu, pembangunan Legok Nangka masih membutuhkan waktu sehingga Pemkot Bandung perlu menyiapkan alternatif pengelolaan sampah dalam masa transisi. “Waktu itu Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” ujar Farhan. Dari sisi administrasi, Pemkot Bandung juga akan menyiapkan kebutuhan anggaran melalui finalisasi perubahan anggaran 2026 serta penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) 2027 agar pembangunan fasilitas dapat dipercepat sesuai target.
Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, fasilitas Gedebage akan menerapkan konsep pengolahan sampah secara terdesentralisasi. Melalui konsep ini, sampah tidak seluruhnya harus dikirim ke TPA, tetapi dapat diselesaikan di wilayah atau kawasan masing-masing. Teknologi yang disiapkan akan mengolah sebagian sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), yakni material dengan nilai kalor tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan industri, seperti refinery, pabrik, maupun boiler. Selain mengurangi timbunan sampah, teknologi tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi. Aspek lingkungan juga menjadi perhatian, terutama untuk memastikan proses pengolahan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil benchmarking, kebutuhan investasi fasilitas berkapasitas 300 ton per hari diperkirakan berada di kisaran Rp50 miliar hingga Rp60 miliar, meski perhitungan finansialnya masih dalam proses.
Fasilitas di Gedebage akan menjadi proyek percontohan atau pilot project yang nantinya berpeluang dikembangkan di sejumlah Subwilayah Kota (SWK) di Bandung maupun daerah lainnya. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto mengatakan, perguruan tinggi turut melakukan berbagai kajian untuk menemukan teknologi pengolahan sampah yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Pendekatan yang dikaji mencakup pengolahan sampah organik, termasuk pemanfaatan maggot, serta pengolahan material yang dapat dijadikan bahan bakar menjadi SRF. Teknologi tersebut juga dikembangkan dengan mempertimbangkan pengalaman dari sejumlah negara, termasuk Turki. Jika proyek Gedebage berhasil, konsep serupa diharapkan dapat diterapkan di setiap SWK sehingga pengelolaan sampah Kota Bandung menjadi lebih mandiri, mengurangi beban TPA, sekaligus menciptakan model pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain.


