Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026). Hingga saat ini, otoritas terkait melaporkan tiga orang meninggal dunia dan lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Plt Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI), Heni Hamidah, memastikan bahwa sejauh ini tidak ada laporan mengenai WNI atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
“Kami terus memantau situasi melalui Konsulat Jenderal RI di Davao dan perwakilan RI di Sabah, Malaysia. Kami mengimbau para WNI di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan terus mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat,” ujar Heni, Senin (8/6/2026).
Dampak Kerusakan dan Gempa Susulan
Guncangan hebat tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memicu kepanikan. Sekitar 37 bangunan, yang mayoritas merupakan bangunan komersial, dilaporkan mengalami kerusakan. Salah satu yang mencuri perhatian publik adalah video ambruknya sebuah gerai restoran cepat saji Jollibee akibat kuatnya getaran.
Kondisi patahan di wilayah tersebut terpantau belum stabil. Hingga pukul 11.00 waktu setempat, tercatat telah terjadi 138 kali gempa susulan dengan magnitudo bervariasi, mulai dari 1,3 hingga yang terkuat mencapai 6,7.
Status Peringatan Tsunami
Gempa ini sempat memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Filipina, hingga meluas ke Indonesia, Jepang, dan Australia. BMKG sempat mengeluarkan status Siaga tsunami untuk beberapa daerah di Indonesia.
Namun, saat ini peringatan tersebut telah dicabut. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak valid. Otoritas berwenang meminta warga untuk kembali beraktivitas dengan tetap mengutamakan keselamatan.


