Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan Indonesia masih mengandalkan kapasitas dan sumber daya nasional untuk menangani dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Pemerintah menilai bantuan internasional belum diperlukan karena kebutuhan masyarakat terdampak masih dapat dipenuhi dengan sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah memastikan kebutuhan korban terpenuhi sekaligus mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Meski belum membuka kebutuhan bantuan asing, pemerintah tetap mengapresiasi perhatian dan tawaran bantuan dari sejumlah negara sahabat. Yvonne mengatakan Menteri Luar Negeri RI Sugiono telah menyampaikan apresiasi kepada para duta besar negara sahabat atas solidaritas yang diberikan setelah gempa NTT. Salah satu negara yang menyatakan kesiapan membantu adalah China. Pemerintah China bahkan menyatakan bersedia memberikan bantuan sesuai kebutuhan Indonesia. Tawaran tersebut berpotensi dibahas dalam pertemuan Menlu Sugiono dengan Menlu China Wang Yi pada Dialog Komprehensif Strategis (CSD) Indonesia-China, Jumat (21/8/2026).
Sementara itu, penanganan dampak gempa masih terus dilakukan pemerintah bersama berbagai lembaga terkait. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa M 7,7 mencapai 71 orang setelah satu korban kembali tercatat pada Rabu (19/8/2026). Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan logistik ke wilayah terdampak. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut total bantuan yang dikirim selama 15-18 Agustus 2026 mencapai 398 ton, termasuk sekitar 165 ton yang didistribusikan melalui jalur udara.
Selain distribusi logistik, pemerintah masih melakukan pendataan korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, hingga pemulihan fasilitas yang rusak akibat gempa. Pemerintah akan terus mengevaluasi kondisi di lapangan untuk memastikan kapasitas nasional mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Jika nantinya sumber daya dalam negeri dinilai tidak mencukupi, opsi menerima bantuan internasional tetap terbuka dan akan disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan situasi bencana di NTT.


