Kenaikan harga tepung tapioka atau aci di Kota Bandung mulai membebani pedagang jajanan tradisional. Salah satunya dirasakan Wasitah (57), pedagang di Pasar Balubur Town Square (Baltos), Kota Bandung. Melalui tulisan tangan sederhana di atas potongan kardus bekas yang dipajang di lapaknya pada Senin (2/11/2026), Wasitah menginformasikan kenaikan harga cipuk kepada para pembeli. Camilan khas Sunda berbahan dasar aci dan kerupuk tersebut kini dijual lebih mahal akibat meningkatnya biaya bahan baku.
Wasitah mengungkapkan, harga tepung tapioka yang biasanya dibeli sekitar Rp280 ribu per karung kini melonjak hingga lebih dari Rp400 ribu. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, harga aci per kilogram yang sebelumnya Rp14 ribu kini mencapai Rp18 ribu. “Biasanya itu cuma Rp280 ribu lebih, sekarang sudah Rp400 ribu lebih harganya. Bulan-bulan ini saja naiknya,” ujar Wasitah saat ditemui Tribun Jabar di Pasar Baltos, Senin (2/11/2026).
Lonjakan harga bahan baku tersebut turut berdampak pada berbagai jajanan berbahan dasar aci, seperti cipuk, cireng, hingga otak-otak. Kenaikan harga dari pemasok membuat pedagang eceran tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual kepada konsumen. Wasitah menyebutkan, harga cipuk yang sebelumnya Rp8.000 kini naik menjadi Rp9.500. Sementara itu, otak-otak ukuran kecil yang modalnya meningkat menjadi Rp5.000 kini dijual Rp5.500, sedangkan otak-otak ukuran besar dengan modal Rp6.000 dilepas seharga Rp6.500.
Wasitah mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga aci yang terus terjadi. Namun, ia merasakan langsung dampaknya setiap kali membeli bahan baku dari agen. Menurutnya, kenaikan harga berlangsung beberapa kali dengan selisih yang cukup besar, bahkan sempat mendekati Rp10 ribu hingga lebih dari Rp10 ribu. Kondisi ini membuat pedagang kecil harus memutar strategi agar tetap bisa berjualan di tengah meningkatnya biaya produksi, sekaligus menghadapi kemungkinan berkurangnya daya beli konsumen.


