JAKARTA – Tekanan hebat melanda Pasar Modal Indonesia pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles mendekati 5% pada akhir sesi pertama, Rabu (3/6/2026). Ambruknya indeks domestik ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari merosotnya nilai tukar rupiah serta rilis data makroekonomi dalam negeri yang menunjukkan penyusutan.
Mengutip data pasar dari Bloomberg, kurs rupiah terus tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Greenback terpantau menguat 0,55% dan mendepak mata uang Garuda ke posisi Rp17.936,5 per dolar AS.
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju indeks. “Kami melihat koreksi tajam pada IHSG saat ini erat kaitannya dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” terangnya, Rabu (3/6/2026).
Selain faktor kurs, laju IHSG makin terbebani oleh rontoknya saham-saham emiten konglomerasi raksasa. Saham-saham berkapitalisasi besar ini kompak berbalik arah ke zona merah setelah pada dua hari perdagangan sebelumnya sempat melesat tinggi hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA).
Secara teknikal, Herditya menilai indeks saham nasional masih terjebak dalam tren penurunan (downtrend). Dalam jangka pendek, belum ada indikasi kuat bahwa pasar akan berbalik arah.
“Pergerakan IHSG hari ini tertekan oleh aksi ambil untung pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menguat signifikan. Dari grafik teknikal, indeks masih berada di fase downtrend dan belum memperlihatkan sinyal pembalikan arah (reversal) yang valid,” pungkasnya.


