BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat meningkatkan pemantauan perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Berdasarkan catatan BPBD Jabar hingga 13 Oktober 2026, karhutla tercatat sebanyak 451 kejadian yang tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan, dengan total luas lahan terbakar mencapai 833,78 hektare. Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 75 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai 141,56 hektare.
Kepala Dinkes Jabar, Raden Vini Adiani Dewi, mengatakan pemantauan tren ISPA dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla. Meski belum menerima peringatan dari Kementerian Kesehatan terkait dampak asap tersebut, Dinkes Jabar telah menerbitkan surat edaran untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus gangguan pernapasan. Menurut Vini, masyarakat perlu tetap waspada terhadap paparan asap tanpa harus menunggu kepastian penyebab penyakit.
Vini mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah maupun ketika berada di kerumunan. Warga juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), rajin mencuci tangan, beristirahat cukup, serta menjaga kondisi tubuh. Ia menegaskan, kewaspadaan perlu dilakukan setiap kali masyarakat berpotensi menghirup asap atau udara yang tercemar, sebagai upaya mengurangi risiko gangguan kesehatan saluran pernapasan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, mengungkapkan dampak karhutla turut berkaitan dengan kebakaran tempat pemrosesan akhir (TPA) di Kabupaten Garut. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk menangani kejadian tersebut. Teten menjelaskan, kebakaran di TPA Garut bermula dari kebakaran lahan. Selain di Garut, kebakaran TPA juga terjadi di TPA Galuga, Kabupaten Bogor, di tengah musim kemarau yang disertai fenomena El Nino tahun ini.


