Maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Malaysia, Firefly, memperpanjang pembatalan penerbangan rute Kuala Lumpur–Singapura hingga Rabu (14/10/2026). Keputusan tersebut diambil akibat kabut asap lintas negara yang dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Dalam pernyataannya yang dikutip AFP, Selasa (13/10), Firefly menyebut langkah ini sebagai upaya menjaga keselamatan penerbangan di tengah memburuknya kualitas udara di kawasan tersebut.
Penangguhan penerbangan antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di dekat Kuala Lumpur dan Bandara Seletar di Singapura telah berlangsung sejak Sabtu (10/10). Firefly menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Informasi terbaru mengenai jadwal penerbangan akan disampaikan langsung kepada penumpang yang terdampak pembatalan.
Berdasarkan data IQAir, lembaga pemantau kualitas udara yang berbasis di Swiss, Singapura masuk dalam daftar dua kota besar dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia pada Selasa (13/10). Kabut asap dari karhutla di Kalimantan dan Sumatra dilaporkan menyebar hingga ke negara tersebut. Indeks Kualitas Udara (AQI) Singapura tercatat mencapai 193, yang masuk kategori tidak sehat karena berada di atas ambang batas 150.
Dampak kabut asap juga memengaruhi aktivitas masyarakat di Malaysia dan Singapura. Pemerintah Singapura mengaktifkan skema layanan kesehatan terjangkau bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap. Sementara itu, sekolah-sekolah di sebagian besar wilayah Malaysia kembali dibuka pada Selasa setelah kualitas udara membaik. Namun, penutupan sekolah masih diberlakukan di tiga negara bagian, satu wilayah federal, dan sejumlah distrik setempat.


