Prosesi adat yang dilakukan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat mengikuti rangkaian acara Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi di Lampung baru-baru ini memicu beragam tafsir di ranah publik. Dalam video yang viral di media sosial, Jokowi tampak menginjak kepala kerbau di atas karpet merah sebagai bagian dari ritual pemberian gelar adat. Peristiwa ini kemudian menarik perhatian elit politik yang memberikan pandangan berbeda atas tindakan tersebut.
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, menanggapi hal itu dengan nada santai sekaligus kritis. Ia tertawa saat mendengar adanya spekulasi bahwa prosesi menginjak kepala kerbau dianggap sebagai penghinaan terhadap partainya. Andreas menegaskan bahwa lambang PDI Perjuangan adalah banteng moncong putih, bukan kerbau. Namun, ia menyayangkan tindakan Jokowi yang mau dinobatkan sebagai raja atau kepala adat di daerah. Menurutnya, mantan presiden sebaiknya menjaga martabat sebagai simbol pemersatu bangsa dan lebih fokus mengejar pencapaian di tingkat internasional alih-alih terlibat dalam safari politik lokal yang menurutnya kurang pantas.
Sebaliknya, PSI justru pasang badan membela Jokowi dan menyerang balik sikap PDIP. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menuding bahwa komentar dari elit PDIP justru menghina adat dan budaya masyarakat Lampung. Bestari menegaskan bahwa prosesi tersebut merupakan bentuk penghargaan tulus dari kerajaan adat kepada Jokowi yang tradisinya sudah berlangsung lama sebelum PDIP berdiri. Ia bahkan menyarankan agar PDIP berhenti melontarkan kritik yang didasari rasa tidak suka dan berharap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dapat menasihati kadernya agar lebih menghormati tradisi budaya di berbagai daerah di Indonesia.
Di sisi lain, tokoh adat Lampung, Mawardi Harirama, memberikan penjelasan mendalam guna meluruskan narasi yang berkembang. Ia menegaskan bahwa ritual tersebut murni bersifat kultural dan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan agenda politik apa pun. Menurut Mawardi, meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau memiliki makna filosofis untuk melambangkan upaya seseorang dalam menghilangkan sifat-sifat buruk manusia seperti kesombongan, iri dengki, dan ketamakan. Mengenai penggunaan karpet merah yang sempat dikaitkan dengan simbol partai politik tertentu, Mawardi menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari dekorasi standar di Kedatun Keagungan dan tidak ditujukan bagi kelompok mana pun. Ia berharap masyarakat dapat melihat prosesi tersebut sebagai upaya pelestarian budaya bangsa dan tidak menariknya ke dalam polemik politik yang tidak relevan.


