Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengalami penyusutan permukaan air akibat kemarau yang berkepanjangan. Kondisi tersebut mulai berdampak pada aktivitas warga, terutama pembudidaya ikan menggunakan keramba jaring apung (KJA) dan petani yang memanfaatkan air waduk untuk mengairi lahan pertanian di sekitar kawasan.
Salah seorang pembudidaya KJA, Didi (63), warga Kampung Maduhur, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, mengatakan permukaan air terus menurun karena hujan belum juga turun. Para pembudidaya kini harus lebih sering memantau posisi keramba dan memindahkannya ke bagian waduk yang lebih dalam. Keramba yang berada di perairan dangkal dinilai berisiko membuat ikan mati karena lalu lintas perahu dapat mengaduk lumpur sehingga air menjadi keruh.
Tak hanya pembudidaya ikan, penyusutan Waduk Saguling juga menyulitkan warga yang menggunakan air waduk untuk mengairi kebun. Didi mengatakan warga harus menambah panjang selang agar air tetap dapat dialirkan ke lahan pertanian yang berada di atas waduk. Jika sebelumnya cukup menggunakan selang sekitar 30 meter, kini warga membutuhkan selang dengan panjang mencapai 60 hingga 70 meter.
Kondisi tersebut membuat warga harus melakukan berbagai penyesuaian agar aktivitas pertanian dan budidaya ikan tetap berjalan selama kemarau. Pembudidaya KJA harus lebih rutin memantau kedalaman air dan memindahkan keramba, sementara petani terpaksa menambah peralatan untuk menjangkau sumber air yang semakin menjauh akibat turunnya permukaan Waduk Saguling.


