Keberadaan Siti Nurhaida Pratiwi, perempuan asal Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, belum diketahui setelah komunikasi dengan keluarganya terputus saat bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab. Keluarga semakin khawatir setelah beredar pesan yang diduga berisi permintaan pertolongan dari Siti. Orang tua Siti pun meminta bantuan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menelusuri keberadaan anaknya dan mengupayakan pemulangannya apabila diperlukan.
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) KBB membenarkan telah menerima laporan dari keluarga Siti pada Senin (12/10/2026). Kepala Disnaker KBB, Yoppie Indrawan, melalui Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT), Dewi Andani, mengatakan keluarga telah mendatangi kantor dinas untuk menceritakan kronologi keberangkatan hingga hilangnya komunikasi dengan Siti. “Pihak keluarga datang ke sini dan menceritakan kronologi keberangkatan anggota keluarganya sampai kehilangan kontak. Mereka meminta bantuan kami agar yang bersangkutan bisa kembali lagi ke rumahnya,” kata Dewi, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan keterangan keluarga, Siti berangkat ke Dubai pada 14 September 2026 untuk bekerja. Pada awal kedatangannya, ia masih berkomunikasi dengan keluarga. Namun, situasi berubah setelah keluarga menerima informasi bahwa Siti mengalami persoalan di tempat kerja dan ingin meninggalkan lokasi tersebut. Keluarga juga mengaku sempat melihat luka pada tubuh Siti melalui komunikasi yang mereka terima. Kekhawatiran semakin meningkat setelah beredar tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga berasal dari Siti di media sosial pada Minggu (11/10/2026). Dalam pesan tersebut, Siti disebut meminta pertolongan karena mengaku disekap serta meminta keluarganya menghubungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Dubai. Meski demikian, dugaan penyekapan maupun penyebab luka tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan verifikasi.
Menindaklanjuti laporan keluarga, Disnaker KBB berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Kementerian Luar Negeri untuk menelusuri keberadaan serta kondisi Siti. Dewi menegaskan, pihaknya belum dapat menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas proses keberangkatan maupun dugaan kejadian yang dialami Siti. “Fokus kami saat ini adalah membantu memastikan keberadaan, kondisi, dan keselamatan yang bersangkutan. Mengenai pihak-pihak yang disebut dalam keterangan keluarga maupun dugaan kejadian yang dialami korban, kami belum dapat memberikan kesimpulan sebelum ada hasil klarifikasi dan penelusuran dari pihak yang berwenang,” ujarnya. Hingga berita ini disusun, keberadaan dan kondisi terkini Siti belum dapat dipastikan.


