Minuman berkafein seperti kopi sudah lama menjadi andalan banyak orang untuk mendongkrak fokus dan mengusir rasa kantuk. Namun, di balik khasiatnya tersebut, konsumsi kafein yang tidak bijak ternyata menyimpan risiko memicu sakit kepala migrain. Menurut penjelasan dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), seorang dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), kafein memiliki hubungan yang unik dan ambivalen dengan migrain. Di satu sisi, zat stimulan ini kerap diandalkan untuk meredakan nyeri kepala, namun di sisi lain justru bisa menjadi bumerang yang memicu serangan migrain apabila polanya salah.
Dokter yang akrab disapa dr. Sena ini meluruskan kekeliruan masyarakat yang sering langsung menyalahkan zat kafein saat migrain menyerang. Masalah utamanya sebenarnya bukan terletak pada kafein itu sendiri, melainkan pada ketidakstabilan dosis dan perubahan pola konsumsi harian seseorang. Tubuh manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat terhadap asupan kafein yang masuk, baik lewat kopi, teh, soda, minuman energi, hingga obat-obatan tertentu. Ketika seseorang yang terbiasa mengonsumsi satu atau dua cangkir kopi sehari tiba-tiba mendongkrak porsinya hingga empat atau lima cangkir dalam waktu singkat, perubahan dosis yang drastis ini akan mengacaukan respons tubuh. Akibatnya, kafein yang semula berfungsi sebagai pereda nyeri justru berbalik memperparah gejala migrain, yang ditandai dengan sakit kepala berdenyut sebelah, mual, hingga sensitivitas berlebih terhadap cahaya dan suara.
Selain lonjakan dosis, pola konsumsi yang tidak konsisten atau tidak teratur juga memegang peranan penting dalam memicu sakit kepala. Saat seseorang terbiasa meminum kopi pada jam yang sama setiap pagi, tubuh akan membentuk alarm biologis yang menanti pasokan tersebut. Jika jadwal ini tiba-tiba bergeser menjadi siang atau malam hari, ketidakseimbangan sementara dalam tubuh dapat memicu munculnya gejala migrain.
Risiko yang tidak kalah besar juga mengintai mereka yang memilih untuk menghentikan konsumsi kafein secara total dan mendadak setelah sekian lama menjadi peminum rutin. Kondisi ini memicu apa yang disebut sebagai gejala withdrawal atau efek putus kafein. Karena pasokan yang biasa diterima tubuh tiba-tiba terputus, pembuluh darah di otak akan mengalami perubahan kebiasaan yang memicu sakit kepala hebat, kelelahan, sulit berkonsentrasi, kantuk yang berat, hingga perubahan suasana hati yang tidak stabil. Oleh karena itu, kunci utama untuk tetap mendapatkan manfaat positif kafein tanpa harus menderita migrain adalah menjaga konsumsi tetap konsisten dan tidak berlebihan. Jika berniat mengurangi ketergantungan pada kopi, proses penurunan dosis sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi kembali.


