Tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dalam survei calon presiden terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dinilai menjadi kabar positif bagi Partai Gerindra. Pengamat Politik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Pius Sugeng Prasetyo, menilai capaian tersebut seharusnya dipandang sebagai bukti keberhasilan kaderisasi partai, bukan ancaman politik. Menurutnya, Gerindra perlu memberikan ruang bagi kader-kader potensial untuk berkembang melalui kompetisi yang sehat di internal partai.
Pius menjelaskan, dalam setiap partai politik terdapat dinamika yang dipengaruhi oleh kelompok elite, sebagaimana dijelaskan Robert Michels melalui teori The Iron Law of Oligarchy. Karena itu, munculnya figur dengan elektabilitas tinggi seperti Dedi Mulyadi berpotensi memunculkan persaingan di internal partai. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut seharusnya disikapi secara positif sebagai tanda bahwa proses pembinaan kader berjalan dengan baik dan berhasil melahirkan tokoh-tokoh yang mendapat kepercayaan publik.
Lebih lanjut, Pius berharap Partai Gerindra tidak melakukan langkah yang justru menghambat kader berprestasi. Ia menilai partai perlu mengedepankan kompetensi dan prestasi sebagai dasar pengembangan karier politik, bukan semata kedekatan dengan elite partai. Sebagai perbandingan, ia mencontohkan partai-partai di negara maju yang mampu mengakomodasi kader potensial, termasuk figur seperti Zohran Mamdani di Amerika Serikat, sehingga regenerasi kepemimpinan dapat berjalan secara sehat dan terbuka.
Dalam survei SMRC yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas simulasi calon presiden dengan elektabilitas 35 persen, mengungguli Presiden Prabowo Subianto yang meraih 14,5 persen. Di bawah keduanya terdapat Anies Baswedan (8,2 persen), Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), serta sejumlah tokoh nasional lainnya. Survei tersebut melibatkan 749 responden dengan margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


