Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026), menyebabkan kerusakan besar dan menelan banyak korban jiwa. Bencana yang menerjang kawasan pegunungan Rasuwa tersebut menyapu rumah, kendaraan, jalan, jembatan hingga proyek pembangkit listrik. Tim penyelamat masih melakukan pencarian setelah jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 392 orang, sementara lebih dari 1.400 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sejumlah desa bahkan disebut tersapu aliran air, lumpur, batu, dan puing yang datang secara tiba-tiba.
Dahsyatnya terjangan banjir terlihat dari kesaksian pilot helikopter yang berada di lokasi. Aman Budathoki mengatakan dirinya melihat gelombang air bercampur material longsoran dengan ketinggian sekitar 5 hingga 6 meter. Arus deras tersebut menyeret pohon besar dan kendaraan hingga menghantam permukiman. Kondisi semakin parah karena aliran banjir membawa lumpur tebal yang mengubur bangunan hingga lantai dua. Pemerintah Nepal pun mengerahkan helikopter dan meminta bantuan India serta China untuk mendukung operasi penyelamatan di wilayah yang sulit dijangkau.
Penyebab pasti bencana masih diteliti, namun para ahli menduga longsoran gletser di kawasan Himalaya menjadi pemicu utama. Sebelumnya, US Geological Survey (USGS) sempat mencatat getaran yang dianggap sebagai gempa berkekuatan magnitudo 4,4, tetapi kemudian merevisi analisis tersebut. Aktivitas seismik itu dinilai berasal dari longsoran gletser besar yang menghasilkan getaran setara gempa magnitudo 5,2. Para ilmuwan juga mengaitkan kondisi tersebut dengan perubahan iklim yang menyebabkan pencairan es, ketidakstabilan lereng gunung, serta meningkatnya risiko banjir dan longsor di kawasan Himalaya.
Di tengah bencana tersebut, Kementerian Luar Negeri RI terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Nepal. Terdapat sekitar 45 WNI yang tercatat berada di negara tersebut, mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan. Hingga kini belum ada laporan WNI menjadi korban, namun perhatian khusus diberikan kepada wisatawan Indonesia, terutama mereka yang melakukan pendakian. Pemerintah Indonesia mengimbau WNI menjauhi wilayah terdampak, mengikuti arahan otoritas setempat, serta terus memantau informasi resmi selama proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung.


