Masyarakat Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diminta tetap mewaspadai potensi longsor dan banjir bandang meski saat ini masih berada dalam periode musim kemarau. Ancaman tersebut perlu diperhatikan karena sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung memiliki kondisi geografis berupa perbukitan dan lereng yang tergolong rawan pergerakan tanah. Analis Kebencanaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Ridwan Maulana, mengatakan pihaknya terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Ridwan mengatakan, BPBD Kabupaten Bandung secara rutin menyebarkan surat edaran setiap bulan untuk mengingatkan masyarakat mengenai risiko bencana. Selain sosialisasi, BPBD juga berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur kewilayahan dalam melakukan berbagai langkah mitigasi. “Surat edaran untuk memelihara kewaspadaan masyarakat akan risiko bencana kami sebarkan setiap bulan,” ujar Ridwan kepada awak media, Sabtu (29/8/2026). Mitigasi dilakukan melalui langkah nonstruktural oleh BPBD, sementara OPD teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Disperkimtan, serta aparatur kewilayahan melakukan mitigasi struktural.
Kewaspadaan terutama perlu ditingkatkan ketika hujan mulai kembali turun setelah periode kemarau panjang. Berdasarkan Peta Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Agustus 2026 yang dirilis PVMBG, sejumlah kecamatan memiliki potensi gerakan tanah kategori menengah hingga tinggi, di antaranya Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cimaung, Cimenyan, Ibun, Ciwidey, Kertasari, Kutawaringin, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, dan Rancabali. Sementara itu, potensi banjir bandang juga tercatat di wilayah Arjasari, Banjaran, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Pasirjambu, dan Rancabali.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, sebelumnya juga mengingatkan masyarakat Jawa Barat mengenai potensi longsor dan banjir bandang setelah musim kemarau. Menurutnya, kondisi lahan yang mengalami kekeringan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika hujan kembali turun karena daya ikat tanah dapat melemah. Ia menjelaskan banjir bandang berbeda dengan banjir biasa karena dapat membawa material berukuran besar yang berpotensi menimbulkan kerusakan. Karena itu, pemerintah daerah di Jawa Barat didorong memperkuat langkah mitigasi dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan iklim yang tengah berlangsung.


