Banjir besar melanda Bangkok, Thailand, setelah hujan deras mengguyur ibu kota tersebut selama hampir 48 jam. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya empat orang tewas akibat banjir di Bangkok, sehingga total korban meninggal dunia akibat banjir yang melanda berbagai wilayah Thailand sejak pertengahan September 2026 mencapai sedikitnya 23 orang. Sekitar 700.000 warga dilaporkan terdampak banjir di Bangkok.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand (DDPM) menyebut banjir telah melanda 29 dari 77 provinsi di Thailand. Selain empat korban jiwa di Bangkok, delapan orang meninggal dunia di Samut Prakan, enam orang di Sa Kaeo, serta lima korban lainnya tercatat di Chanthaburi, Ayutthaya, dan Saraburi. Sebagian wilayah Bangkok masih terendam hingga Selasa (29/9/2026), tiga hari setelah pemerintah kota menetapkan status bencana di seluruh wilayah ibu kota.
Aktivitas warga juga masih terganggu akibat banjir. Sekolah-sekolah di Bangkok diliburkan untuk hari kedua, sementara hampir 7.000 orang masih bertahan di lebih dari 230 tempat penampungan yang tersebar di berbagai wilayah. Stasiun pompa terus beroperasi dengan kapasitas penuh untuk mengurangi genangan, namun Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt memperkirakan air membutuhkan waktu hingga sekitar satu minggu untuk benar-benar surut.
Banjir parah tersebut terjadi saat September menjadi salah satu periode puncak musim penghujan di Thailand. Kondisi Bangkok yang dibangun di kawasan yang dulunya merupakan rawa dan memiliki jaringan kanal yang cukup banyak turut membuat sejumlah wilayah rentan tergenang ketika curah hujan tinggi. Di tengah kondisi tersebut, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil dapat meningkatkan intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem.

