Warga Kota Bandung, Jawa Barat, mengeluhkan gangguan jaringan internet yang diduga berkaitan dengan proyek pemindahan kabel udara ke bawah tanah. Gangguan tersebut dilaporkan menghambat aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang membutuhkan koneksi internet untuk bekerja. Sejumlah warga mengaku mengalami kesulitan mengakses jaringan selama beberapa hari terakhir, sementara pekerjaan galian kabel juga dinilai mengganggu mobilitas masyarakat di sejumlah ruas jalan.
Salah seorang warga Cicadas, Kota Bandung, Siti Aminah (29), mengatakan dirinya terpaksa bekerja dari kafe atau work from cafe (WFC) karena jaringan internet di rumahnya mengalami gangguan. Kepada Tribun Jabar, Sabtu (10/10/2026), ia mengungkapkan bahwa gangguan tersebut sudah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Karena pekerjaannya membutuhkan koneksi internet yang stabil, ia akhirnya mencari kafe yang menyediakan fasilitas WiFi agar aktivitas kerjanya tetap berjalan. Ia mengaku telah melaporkan masalah tersebut kepada penyedia layanan internet, tetapi belum melihat penanganan yang signifikan.
Menurut Siti, gangguan jaringan membuat pekerjaannya sangat terhambat. Bahkan, penggunaan fitur tethering dari ponsel belum menjadi solusi yang efektif karena koneksi masih sering mengalami buffering. Ia juga menyoroti dampak proyek galian kabel terhadap kelancaran lalu lintas. Selain harus menghadapi kemacetan, warga kini juga mengalami gangguan akses internet. Ia berharap pemerintah dapat menyiapkan mitigasi risiko yang lebih baik, termasuk mempertimbangkan pengerjaan pada malam hari ketika mobilitas masyarakat cenderung lebih rendah, sehingga dampak terhadap aktivitas warga dapat diminimalkan.
Keluhan serupa disampaikan Darmanto, yang mengungkapkan bahwa sambungan internet di kantornya di kawasan Jalan Ibrahim Adjie, Kelurahan Babakan Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, masih terputus sejak Kamis (8/10/2026) hingga Sabtu (10/10/2026). Jaringan yang digunakan kantor tersebut merupakan layanan IndiHome. Ia mengaku mendapat informasi dari petugas di lapangan bahwa proses perbaikan hingga jaringan kembali normal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan, pihaknya terpaksa membeli kuota internet tambahan. Namun, modem yang tersedia di kantor memiliki kualitas sinyal kurang baik sehingga aktivitas seperti mencari informasi, menjelajah internet, mengirim berkas PDF, hingga membuat konten menjadi lebih lambat. Darmanto berharap gangguan tersebut segera ditangani agar aktivitas pekerjaan tidak terus terganggu.


