Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor, mempertimbangkan penghentian sementara aktivitas pendakian gunung. Langkah tersebut dinilai perlu dilakukan sebagai upaya mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terlebih di tengah kondisi kemarau dan fenomena El Nino. Menurut Dedi, pembatasan aktivitas masyarakat di kawasan pegunungan untuk sementara waktu diperlukan karena potensi kebakaran tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca, tetapi juga perilaku manusia.
Dedi menyoroti kebiasaan sebagian pendaki yang masih membawa rokok maupun menyalakan api ketika berada di kawasan pegunungan. Ia khawatir kelalaian kecil dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan saat kondisi lingkungan kering. “Karena banyak orang yang manjat gunung itu bawa rokok dan bakar,” ujar Dedi. Ia pun meminta aktivitas pendakian ditunda sementara hingga kondisi dinilai lebih aman. “Sementara ini menurut saya tunda dulu, karena tidak semua orang disiplin,” katanya.
Selain kawasan pegunungan, Dedi meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Menurutnya, material sampah yang mengering selama musim kemarau lebih mudah terbakar sehingga sumber api sekecil apa pun perlu dicegah. Ia mengimbau agar masyarakat tidak membawa korek api maupun rokok ke area TPA untuk menghindari munculnya sumber api yang dapat memicu kebakaran.
Kewaspadaan tersebut sejalan dengan meningkatnya kasus karhutla di Jawa Barat. Data BPBD Jabar mencatat sebanyak 143 kejadian karhutla terjadi sepanjang Januari hingga 30 Agustus 2026, yang tersebar di 161 titik atau lokasi terdampak di sejumlah kecamatan. Sebanyak 50 orang tercatat terdampak, sementara tidak ada korban meninggal dunia maupun hilang. Total lahan yang terbakar mencapai sekitar 220 hektare. Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 20 kasus dengan luas lahan terbakar 21,68 hektare, sedangkan Kabupaten Sukabumi mencatat luas lahan terdampak terbesar, mencapai 49,20 hektare dari 12 kejadian. Karhutla juga terjadi di Majalengka, Kuningan, Cirebon, Bandung, Subang, Purwakarta, serta sejumlah wilayah perkotaan seperti Kota Sukabumi, Kota Bandung, dan Kota Depok.


