Peristiwa gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang kawasan Selat Sunda, dekat pesisir Provinsi Banten, pada Rabu dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kejadian tersebut sekaligus memastikan bahwa guncangan yang terjadi sama sekali tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Berdasarkan penjelasan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, hasil analisis komprehensif menunjukkan bahwa aktivitas seismik ini murni dipicu oleh pergerakan subduksi lempeng tektonik di bawah laut. Mekanisme pergerakan patahan gempa terdeteksi sebagai pergerakan naik (thrust fault) dengan pusat guncangan berada di kedalaman 43 kilometer di bawah permukaan laut. Melalui pemodelan visual yang dilakukan tim BMKG, dipastikan tidak ada ancaman tsunami yang menyertai peristiwa ini.
Secara geografis, BMKG memetakan episenter gempa berada pada koordinat 6,83° Lintang Selatan dan 105,04° Bujur Timur. Lokasi riilnya berjarak sekitar 62 kilometer arah barat daya dari Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Hingga pukul 03.05 WIB, sistem pemantauan otomatis BMKG juga belum mendeteksi adanya aktivitas gempa bumi susulan.
Meski tidak memicu tsunami, efek getaran gempa ini dilaporkan terasa cukup kuat di beberapa daerah metropolitan dengan skala intensitas III hingga IV MMI. Di Kecamatan Sumur dan Pandeglang, guncangan mencapai skala IV MMI, di mana getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, ditandai dengan pintu atau jendela yang berderik, hingga barang-barang gerabah yang bergoyang dan berpotensi pecah. Sementara itu, getaran juga menjangkau wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan skala intensitas III MMI. Di wilayah ini, warga merasakan getaran nyata di dalam rumah yang sensasinya menyerupai truk kontainer besar sedang melintas di dekat mereka.


