Kondisi memprihatinkan dialami SD Negeri Cilayem di Kampung Cilayem, Desa Ciptagumati, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Ruang guru di sekolah tersebut rusak parah dan terancam ambruk, namun hingga kini masih tetap digunakan oleh para tenaga pendidik. Atap bangunan berlubang besar, kayu penyangga genting tampak lapuk dan sebagian telah patah, sementara saat hujan deras air langsung mengguyur ke dalam ruangan layaknya air terjun. Meski keselamatan mereka terancam, para guru tetap menjalankan tugas mengajar demi para siswa.
Salah seorang guru, Wulan Susilawati, mengungkapkan kerusakan ruang guru sudah terjadi sekitar enam tahun dan terus memburuk. Bahkan, dua bulan lalu genting sempat runtuh, meski tidak menimbulkan korban karena terjadi saat libur sekolah. Saat hujan turun, para guru terpaksa mengungsi ke ruang kelas I agar terhindar dari tetesan air. Peralatan elektronik harus ditutup plastik, sedangkan buku-buku diselimuti terpal agar tidak rusak. Kondisi tersebut juga membuat kegiatan belajar tambahan bagi siswa yang biasanya dilakukan di ruang guru terpaksa dihentikan.
Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah agar bangunan segera diperbaiki. Selama enam tahun terakhir, sejumlah proposal bantuan telah diajukan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat hingga DPRD Bandung Barat, namun belum membuahkan hasil. Ironisnya, ketika dilakukan peninjauan, bantuan justru dialokasikan untuk perbaikan ruang kelas yang dinilai masih layak digunakan, sementara ruang guru yang kondisinya paling mengkhawatirkan belum juga tersentuh. Guru kelas VI, Chaerul Shaleh, berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan karena kekhawatiran terbesar muncul setiap kali hujan turun.
Selain bangunan yang rusak, akses menuju SDN Cilayem juga tidak mudah karena berada di kawasan perbukitan dengan medan yang curam. Meski berada di lokasi terpencil, sekolah yang berdiri sejak 1986 itu menjadi tumpuan pendidikan bagi sedikitnya empat kampung, yakni Cilayem, Tagog, Cigintung, dan Cisitu. Saat ini, SDN Cilayem menampung 105 siswa dengan dukungan delapan guru. Para tenaga pendidik berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki ruang guru sekaligus membangun benteng pengaman sekolah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih aman dan nyaman.


