Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menanggapi sorotan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan dikaitkan dengan berbagai persoalan, termasuk kasus gangguan kesehatan. Sudaryono menyebut secara keseluruhan program MBG tidak bermasalah dan menilai masyarakat di lapisan bawah tidak banyak mempermasalahkannya. Menurut dia, isu terkait MBG justru lebih ramai diperbincangkan di media sosial dibandingkan kondisi yang terjadi di lapangan.
Sudaryono mengatakan sorotan terhadap program tersebut banyak datang dari guru, orang tua siswa, wartawan, hingga sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ia juga menyebut ada pihak yang membawa isu MBG ke ranah politik. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berbagai laporan mengenai pelaksanaan program MBG yang terus menjadi perhatian publik. Program ini sendiri mulai dijalankan pemerintah sejak 6 Januari 2025 dan secara bertahap diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
Namun, sejak awal pelaksanaannya, program MBG juga telah diwarnai laporan gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan yang dibagikan. Salah satu kasus terjadi hanya sekitar sepekan setelah program diluncurkan, tepatnya pada 13 Januari 2025 di SPPG Nunukan. Dalam kejadian tersebut, sebanyak 90 orang dilaporkan terdampak. Sehari kemudian, BGN juga mencatat enam orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Seiring dengan semakin luasnya pelaksanaan MBG, berbagai persoalan dalam program tersebut terus menjadi bahan evaluasi dan sorotan. Pernyataan Sudaryono mengenai kondisi MBG yang dinilai tidak bermasalah pun muncul bersamaan dengan adanya laporan-laporan terkait keamanan makanan dan gangguan kesehatan di sejumlah daerah. Pemerintah melalui BGN perlu memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar, terutama dalam hal pengolahan, distribusi, kebersihan, serta keamanan makanan agar tujuan pemberian makanan bergizi kepada masyarakat tetap tercapai.


